Metro – Di tengah hiruk pikuk Kota Metro di Lampung, sebuah pemandangan menarik hadir di Taman Pusat Merdeka Kota Metro. Bukan sekedar tempat berkumpul biasa, area ini menjadi tempat literasi berkat kehadiran Komunitas Lapak Baca yang didominasi oleh anak-anak muda. Fenomena ini menarik perhatian dan membuktikan bahwa minat baca di kalangan Generasi Z masih membara, meski di Era di gital. Komunitas Lapak Baca yang diinisiasi dan diikuti masyarakat sekitar yang di dominasi oleh anak-anak muda yang memiliki ketertarikan dalam membaca buku. Lapak sederhana ini hanya beralas tikar yang dipenuhi dengan berbagai jenis buku, mulai dari novel, buku pelajaran, hingga karya sastra klasik.
Anggota Komunitas ini mayoritas adalah anak muda kalangan mahasiswa. Mereka tidak hanya datang untuk membaca, tetapi juga aktif berinteraksi, bertukar informasi tentang buku, dan bahkan mengadakan diskusi santai. Kegiatan Lapak Baca ini berlangsung di hari Minggu sore dan mulai di jam 04.00 WIB. Waktu-waktu luang ini dimanfaatkan para anggota untuk menyalurkan ketertarikan membaca dan sekaligus bersosialisasi dengan individu yang memiliki minat yang serupa.
Lokasi Lapak Baca ini tepat di Pusat Taman Merdeka Kota Metro yang rindang, area publik yang dekat dengan tugu menjadi ciri khas di Taman yang selalu menjadi tujuan masyarakat untuk pergi ke taman ini membuat tempat ini ramai namun tetap memberikan ruang aman untuk membaca. Kehadiran Lapak ini memberikan aktivitas yang baru untuk anak muda dalam menghilangkan stigma negatif bagi masyarakat bahwa masih ada ruang yang memberika nilai positif bagi anak muda.
Inisiatif ini muncul dari keresahan kelompok mahasiswa tentang penurunan literasi bagi anak muda yang lebih dominan dengan gadget dan ini menjadikan bentuk kesadaran akan pentingnya literasi di kalangan generasi muda. Mereka percaya bahwa buku adalah jendela dunia yang dapat membuka wawasan dan meningkatkan kualitas diri. Selain itu, Lapak Baca juga menjadi wadah untuk membangun tiap individu agar tidak mudah terframing dengan sosial media. Harga buku yang gratis ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi dan ruang.
Komunitas ini bergerak secara mandiri dengan mengumpulkan buku dari donasi anggota atau masyarakat umum. Mereka secara sukarela untuk mengatur pembagian tugas untuk menjaga dan melayani pengungjung Lapak. Promosi kegiatan dilakukan melalui penyebaran pamphlet di media sosial. Ada dua metode yang dilakukan yaitu metode pertama setiap anggota membaca buku masing-masing yang sudah dipilih lalu diberi waktu 10 menit untuk membaca buku yang sudah dipilih setelah itu presentasikan apa yang sudah dibaca dari buku yang dipilih, metode kedua setiap anggota membaca satu buku yang sama dengan di bagi tiap paragraph yang beraturan dengan diberi waktu 10 menit lalu presentasikan setelah itu ruang diskusi dibuka, masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini memberi interaksi yang jauh dari kesan perpustakan yang formal.
Keberadaan Komunitas Lapak Baca yang digerakkan oleh anak muda ini menjadi hal baru bagi literasi di Indonesia. Semangat dan inisiatif mereka patut di apresiasi dan diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak lagi anak muda untuk mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai gaya hal baru. Dukungan dari OKP dan masyarakat sekitar, tentunya akan semkain memperkuat gerakan positif ini. (Fikroh Intan)