Pasar Welit, Desa Notoharjo, Trimurjo, Lampung Tengah. Suasana pagi hari setiap Rabu dan Minggu, saat warga memadati pasar tradisional untuk berdagang dan berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Lampung Tengah – Suara riuh pedagang memanggil pembeli, aroma sayur mayur yang masih segar, hingga gemerisik uang receh berpindah tangan—semua berpadu harmonis di Pasar Welit, pasar tradisional yang hanya buka setiap Rabu dan Minggu pagi di Desa Notoharjo, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah.
Meski hanya dua kali seminggu, denyut ekonomi yang tercipta di pasar ini begitu vital. Sejak pukul 05.00 WIB, warga mulai berdatangan membawa hasil kebun dan dagangan rumahan. Pedagang sibuk menata barang di atas tikar, meja kayu, atau langsung di tanah beralaskan karung. Hasil bumi seperti cabai, tomat, singkong, hingga kue-kue pasar berjejer rapi, siap menarik perhatian pembeli.
“Saya sudah 15 tahun jualan di sini. Pasarnya memang hanya dua kali seminggu, tapi alhamdulillah selalu ramai,” ujar Bu Marnah (48), penjual tempe dan sayur. “Hari pasar itu sudah jadi bagian dari hidup kami.”
Pasar Welit bukan sekadar tempat transaksi jual beli, tapi juga ruang sosial masyarakat. Di bawah naungan terpal biru, candaan pedagang, cerita kehidupan, dan kabar kampung berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya.
“Sini Bu, cabenya baru panen tadi subuh! Murah, masih seger!” teriak seorang pedagang sambil menata cabai. Tawar-menawar pun menjadi hiburan rutin yang mencairkan suasana.
Banyak pembeli dari desa sekitar memilih Pasar Welit karena harga terjangkau dan nuansa kekeluargaan yang hangat. “Saya dari Fajar Asri, selalu belanja di sini kalau Rabu atau Minggu. Rasanya beda, seperti pulang ke kampung sendiri,” ujar Ibu Reni sambil memilih sayuran.
Namun, kondisi pasar masih jauh dari kata ideal. Banyak pedagang berjualan di atas tanah tanpa pelindung permanen, dan terpal biru yang menjadi atap darurat sering bocor saat hujan. “Kalau bisa, pemerintah bantu bangun kios permanen. Tapi ya, kita tetap syukuri apa yang ada,” kata Pak Solihin, penjual sayuran.
Pasar Welit adalah wajah keteguhan masyarakat desa: mereka tak hanya berjualan, tapi juga menjaga denyut kehidupan lokal dengan penuh semangat, dua hari dalam seminggu yang penuh makna. ( Yufri Wibi )