Ketika Dunia Sibuk dengan AI, Masih Ada yang Bertahan Dengan Kayuhan

Ketika Dunia Sibuk dengan AI, Masih Ada yang Bertahan Dengan Kayuhan

Metro – Di tengah gegap gempita kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan kendaraan listrik tanpa pengemudi, pemandangan seorang tukang becak tua di pinggir jalan ini mengingatkan kita bahwa tidak semua orang menikmati perkembangan zaman dengan cara yang sama. Hari ini, dunia sedang dilanda euforia AI. Mesin bisa menulis, menggambar, bahkan mengendarai kendaraan tanpa perlu campur tangan manusia. Startup teknologi bermunculan, anak muda berlomba membangun aplikasi canggih, dan semua serba cepat. Namun di sudut kota ini, masih ada sosok-sosok yang menggantungkan hidup pada becak tua dan tenaga sendiri.

Ia berdiri di sana, di bawah pohon, berteduh dari gerimis sambil menanti penumpang. Tidak ada teknologi canggih yang membantunya. Tak ada aplikasi pemesanan digital, hanya keyakinan bahwa masih ada orang yang butuh jasanya. Dan di situlah letak ironi yang menyentuh—ketika dunia sibuk menatap masa depan, ia masih bertahan demi hari esok.

Ini menyuarakan realita bahwa transformasi digital tidak selalu menyentuh semua lapisan masyarakat. Di tengah tren yang mengagungkan efisiensi dan otomatisasi, mari kita tidak melupakan mereka yang masih hidup dalam sistem lama, bukan karena mereka menolak maju, tetapi karena hidup belum memberi mereka pilihan. Mungkin AI bisa menggantikan banyak hal, tapi belum tentu bisa menggantikan ketulusan dalam setiap kayuhan dan kehangatan dalam menyapa penumpang.(Salsabila)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!