Lampung Tengah – Di tengah bising klakson dan lautan kendaraan yang saling berebut jalan, berdirilah sosok pria tua dengan rompi kuning menyala. Ia bukan polisi lalu lintas, bukan pula petugas resmi dari pemerintah. Tapi tangannya terulur tegas, memberi arahan agar arus kendaraan tetap mengalir. Namanya Pak Darma (62), seorang sukarelawan pengatur lalu lintas yang sudah 10 tahun berdiri di simpang jalanan padat di Trimurjo , kecamatan kecil di Lampung Tengah
Setiap pagi, sejak pukul enam, Pak Darma telah bersiaga di tempatnya. Ia mengenakan rompi lusuh dan topi hitam yang melindungi wajahnya dari sengatan matahari. “Kalau saya enggak berdiri di sini, biasanya macetnya sampai dua gang ke belakang,” katanya dengan nada bangga, meski wajahnya tertutup keringat.
Pak Darma bukan petugas berbayar. Ia tak menerima gaji, tak ada tunjangan. Namun tiap hari ia datang, hanya demi satu hal: membantu. “Saya kasihan lihat ibu-ibu bawa anak sekolah harus nunggu lama di simpang. Maka saya berdiri, kasih jalan,” ujarnya sambil tersenyum, menepuk-nepuk debu di celana panjangnya yang mulai pudar warna.
Aksi Pak Darma bukan tanpa tantangan. Pernah suatu pagi, seorang pengendara memakinya karena dianggap lambat memberi jalan. Tapi ia hanya menjawab, “Saya ini cuma bantu, Mas. Kalau enggak sabar, bahaya nanti di depan.” Kalimat itu menyejukkan, meski ia sendiri kerap diterpa panas, hujan, hingga asap knalpot.
“Pak Darma itu kayak lampu merah hidup,” kata Bu Sulastri, pemilik warung kopi dekat perempatan. “Kalau dia enggak ada, yang lewat semrawut semua.”
Setelah jam sibuk usai, Pak Darma biasanya duduk di bangku kayu dekat trotoar, meneguk teh manis dari termos tua miliknya. Sesekali ia bercanda dengan anak-anak sekolah yang lewat. “Hati-hati, nanti Pak Darma suruh putar balik lho!” candanya, disambut tawa riang.
Hidupnya sederhana. Ia tinggal di rumah kontrakan kecil bersama istri dan dua cucunya. “Saya enggak punya kerja tetap. Dulu buruh bangunan, tapi sekarang sudah enggak kuat. Ya paling ngatur jalan ini saja yang bisa saya lakukan,” ucapnya. Meski hidup pas-pasan, Pak Darma mengaku tak pernah merasa miskin. “Saya ini masih bisa bantu orang. Masih bisa berdiri dan lihat orang lewat dengan aman. Itu lebih dari cukup,” katanya, sambil menatap lalu lintas yang kembali padat menjelang sore. ( Yufri Wibi )