Di tengah maraknya penggunaan e-wallet, QRIS, dan berbagai metode pembayaran digital, masih banyak masyarakat Indonesia yang setia menggunakan uang tunai dalam aktivitas belanjanya. Foto ini menggambarkan suasana khas di pasar tradisional, di mana penjual dan pembeli saling bertukar barang dan lembaran uang rupiah, sebuah pemandangan yang mulai jarang dijumpai di pusat perbelanjaan modern.
Fenomena ini menjadi menarik untuk dibahas karena di saat kota-kota besar berlomba-lomba mengadopsi sistem cashless society, pasar tradisional justru menjadi simbol perlawanan terhadap digitalisasi yang terlalu cepat. Banyak pedagang pasar yang belum sepenuhnya beralih ke pembayaran digital, entah karena keterbatasan akses teknologi, preferensi pribadi, atau alasan kepercayaan terhadap sistem tunai yang sudah lama mereka kenal.
Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada awal tahun 2025, lebih dari 40% UMKM di Indonesia masih mengandalkan transaksi tunai sebagai metode utama. Alasan utama? Karena dirasa lebih mudah, langsung, dan tidak menimbulkan biaya tambahan seperti potongan transaksi. Namun, di sisi lain, pemerintah terus mendorong transformasi digital dengan kampanye penggunaan QRIS hingga ke pasar-pasar tradisional. Targetnya adalah inklusi keuangan yang merata dan efisiensi sistem pembayaran nasional. Fenomena ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam transisi menuju ekonomi digital: inklusi teknologi yang menyeluruh. Digitalisasi memang memudahkan, tetapi tidak bisa menggantikan sepenuhnya nilai-nilai sosial yang hadir dalam interaksi pasar tradisional—seperti tawar-menawar, kepercayaan, dan kedekatan emosional antar penjual dan pembeli.(Salsabila)