Metro – Di sudut trotoar Pasar Cendrawasih kota Metro, seorang pria paruh baya duduk bersandar di dinding kios berwarna biru. Gelas plastik berisi kopi hangat masih mengepul di tangannya. Namanya Syamsul, pria berusia 57 tahun, yang setiap hari membawa dagangan kerupuk dari desa menuju hiruk-pikuk kota, menjadikannya saksi bisu keteguhan hati di tengah kerasnya hidup.
Wajah Pak Syamsul adalah peta kehidupan—dipenuhi garis-garis usia yang menandai perjalanan panjangnya. Tubuhnya mulai membungkuk, namun matanya tetap menyimpan semangat. Dengan mengenakan topi lusuh dan kaus polos yang sudah memudar warnanya, ia tetap setia menggelar dagangan di pinggir jalan, di antara riuh kendaraan dan teriakan pedagang.
“Trotoar bukan cuma tempat orang lewat, tapi juga tempat saya menggantungkan hidup,” ujarnya lirih, sambil menatap lalu lalang orang yang berlalu. Kerupuk yang ia bawa, ditata rapi dalam plastik besar, menjadi sumber nafkah utama bagi keluarganya.
Perjalanan Pak Syamsul sebagai penjual kerupuk dimulai secara tak sengaja. “Dulu cuma bantu kakak ipar yang usaha kerupuk di desa. Eh, lama-lama malah jadi pekerjaan tetap,” kisahnya sambil tersenyum kecil. Setiap hari, ia memanggul sekitar 10 kilogram kerupuk, berjalan kaki menyusuri pasar hingga senja datang.
Dalam kesederhanaannya, Pak Syamsul dikenal ramah dan jenaka. “Pernah ada ibu-ibu tanya, ‘Pak, ini kerupuk tahan berapa lama?’ Saya jawab, ‘Awet sampai bosan makannya, Bu.’ Ketawa dia,” ceritanya sambil tergelak ringan. Bagi banyak pembeli, bukan hanya rasa kerupuknya yang membuat kembali, tetapi juga sikap hangatnya.
Salah satu pelanggan setia, Bu Mirna, mengaku selalu senang membeli darinya. “Pak Syamsul itu nggak cuma jualan, dia juga ngajak ngobrol, ramah, dan suka ngasih bonus. Rasanya kayak ketemu teman lama tiap beli.”
Setiap pagi sebelum matahari terbit, Pak Syamsul sudah bersiap. Kerupuk ia susun rapi, lalu ia berjalan kaki dari desanya, Notoharjo menuju kota Metro. Penghasilannya tak menentu—sekitar Rp50.000 per hari. Namun dari jumlah itu, ia harus mencukupi kebutuhan rumah dan biaya sekolah anaknya.
“Kadang sepi pembeli. Tapi saya pikir, rezeki itu sudah ada yang atur,” ucapnya mantap. Sikap optimis itu membuat banyak pedagang dan pengunjung pasar menghormatinya.
“Pak Syamsul itu ikon di sini. Kalau dia nggak kelihatan, suasana pasar jadi beda,” ujar Fadil, seorang pengendara yang kerap melintas. Sementara Bu Nur, pedagang kios tetangga, menambahkan, “Dia nggak pernah mengeluh. Kalau sepi, dia tetap senyum dan bilang, ‘Besok pasti lebih baik, Bu.’”
Di balik kesahajaan dan lelah yang membekas di tubuhnya, Pak Syamsul menyimpan filosofi hidup yang mendalam. “Hidup ini seperti jualan kerupuk. Kadang laku, kadang enggak. Tapi selama kita jalanin dengan ikhlas, pasti ada jalannya.”
Saat senja menutup hari, Pak Syamsul beranjak pulang ke desanya, membawa sisa dagangan dan harapan baru. Kisahnya adalah potret perjuangan yang sering terlewatkan dari sorotan kamera. Ia bukan hanya penjual kerupuk, melainkan simbol ketekunan dan harapan yang berjalan di atas trotoar kota.
“Kalau rezeki bisa dijemput, kenapa harus menunggu?” katanya menutup percakapan, sambil menatap langit senja yang perlahan menguning. ( Yufri Wibi )