Sungkai Jaya, Desa Cempaka – Di tengah hamparan sawah dan ladang jagung yang menguning di desa cempaka, ide kreatif lahir dari semangat muda mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung ) yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cempaka, Kecamatan Sungkai Jaya, Kabupaten Lampung Utara.
Ide ini lahir dari mahasiwa yang melihat keresahan warga akan turunnya perekonomian didesa dan banyaknya limbah janggel jagung yang menumpuk tidak di gunakan atau tidak di manfaatkan, hanya di bakar secara langsung.
Mereka adalah Ahmad Eka Aryadi Program studi (Prodi) PBS, Agung Setiawan ESy, Ahmad Hafizul Fahmi KPI, Ahmad Iqbal Afandi BPI, Annisa Farhatul Fitri Esy, Annisa Muawannah ESy, Annisa Nabila BSA, Annisa Nuraini BPI, Annisa Rahmani Rabby ESy, Annisa Zahra ESy.
Hadirnya kami selaku mahasiwa ( KKN ) pengabdian masyarakat, untuk membantu sedikit memahami situasi di desa tersebut terutama di masalah mata pencarian. Karna mengigat perekonomian di desa tersebut sedang turun.
- Memberikan pengetahuan praktis budidaya jamur.
- Memanfaatkan limbah jagung (janggel) menjadi media tanam jamur.
- Membuka peluang usaha rumahan untuk meningkatkan sedikit ekonomi warga.
- Jamur janggel jagung kaya akan protein, vitamin yang menjadikannya sumber makanan bergizi dan terjangkau masyarakat
Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh sekertaris desa,BPD, Kepala dusun 1-7, masing-masing RT/RW dari setiap dusun, ibu-ibu PKK, perwakilan karang taruna, kelompok Tani, dan beberapa warga desa Cempaka. Kegiatan ini berjalan dengan lancar para warga sangat antusias mengikuti pelatihan budidaya jamur janggel jagung. Setelah pemaparkan materi dilanjutkan dengan praktek dilapangan, balaidesa Cempaka.


Bapak Baltoni selaku sekdes desa Cempaka mengatakan bahwa budidaya jamur jagung dipilih karena memiliki prospek pasar yang cukup menjanjikan, selain itu juga mudah dibudidayakan oleh masyarakat. “Kami berharap melalui budidaya jamur jagung ini, masyarakat bisa memiliki tambahan penghasilan sekaligus mendukung ketahanan pangan desa,” ujar Baltoni.
Sementara itu, Kepala BPD, bapak Cik Agus, menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendukung program ini, baik dari sisi pengawasan maupun pendampingan agar kelompok tani benar-benar mendapatkan manfaat nyata. “Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan, tidak hanya sebatas program, tetapi juga menjadi peluang usaha yang dapat diandalkan warga Desa Cempaka,” katanya.
Menurut Ahmad Eka Aryadi penanggung jawab program kerja ini menyatakan didesa Cempaka banyak ditemukan limbah janggel jagung dan warga belum memanfaatkan optimal. “Mereka memanfaatkan janggel jagung sebagai pupuk tanaman yang dilakukan di kebun-kebun Mereka. Karena itu, tim mahasiswa KKN UIN Jurai Siwo Lampung mendapatkan inovasi dengan memanfaatkan limbah Janggel jagung sebagai jamur”.
Kemudian menurut Ahmad Iqbal Afandi, janggel jagung dapat digunakan sebagai media tanam jamur, sebab dalam janggel jagung mengandung zat alami berupa ( Lignoselulosa ) yang berpotensi dijadikan media tanam alternatif dalam budidaya jamur. ” Selain kandungan yang terdapat dalam janggel jagung keberhasilan media tanam dipengaruhi oleh tempat yang lembab, dan ditambah bahan-bahan juga yang menentukan”. Ujarnya
Bahan pendukung tersebut diantaranya UREA yang berfungsi sebagai sumber nitrogen untuk pertumbuhan jamur, kemudian ragi tape yang berfungsi sebagai pengatur pH dan suhu dan bekatul ( dedak) sebagai sumber zat gizi, serta penyiraman setiap hari yang dilakukan selama 10-14 hari, dalam waktu tersebut jamur dapat dipanen, Dan tak lupa juga mahasiswa KKN UIN Jurai Siwo Lampung mengajarkan pemasaran jamur janggel jagung secara efektif.
Jamur janggel jagung jenis jamur dari golongan Basidiomicota karena memiliki basidium (seperti payung). Kandungan jamur janggel jagung ini terdiri dari bahan kering 90.0%, protein kasar 2.8% , lemak kasar 0.7% abu 1.5%, serat kasar 32.7%, dinding sel 80%, selulosa 25.0%, Lignin 6.0% dan ADF 32%.
Kelompok tani yang terlibat dalam program ini juga menyambut baik inisiatif pemerintah desa. Mereka menilai budidaya jamur jagung menjadi alternatif baru selain pertanian konvensional, sehingga bisa membuka lapangan kerja baru serta menambah nilai ekonomi keluarga.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah desa, BPD, dan kelompok tani, diharapkan Desa Cempaka dapat menjadi salah satu desa percontohan dalam pengembangan budidaya jamur jagung di wilayah sekitarnya.(Iqbal Afandi)