Mahasiswa KKN UIN JUSILA Kelompok 08 Desa Cahaya Makmur Ikut Serta Meriahkan Tradisi Safaran

Mahasiswa KKN UIN JUSILA Kelompok 08 Desa Cahaya Makmur Ikut Serta Meriahkan Tradisi Safaran

Lampung Utara –Suasana hangat terasa saat warga bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengikuti tradisi safaran di Desa Cahaya Makmur, Rabu, (20/08/2025).

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sedang bertugas di salah satu desa di wilayah Lampung Utara ikut serta dalam kegiatan tradisi Safaran. Tradisi ini digelar warga setiap bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah.

Safaran sendiri sudah turun-temurun dilakukan masyarakat, bentuknya berupa doa bersama, pengajian, hingga makan bersama di lapangan atau di Masjid. Tujuannya memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar dari bala dan musibah. Sebagian daerah juga mengaitkan Safaran dengan tolak bala, karena dalam kepercayaan masyarakat dahulu bulan Safar dianggap membawa banyak cobaan.

Kehadiran mahasiswa KKN membuat acara semakin semarak. Mereka ikut membantu warga menyiapkan perlengkapan acara, mulai dari konsumsi hingga mengatur jalannya kegiatan. Mahasiswa juga mendapat kesempatan belajar langsung tentang kearifan lokal yang masih dijaga masyarakat desa.

“Kami senang bisa ikut merasakan tradisi lokal Safaran ini karena tradisi ini bukan sekadar acara tahunan, tapi juga bentuk syukur dan perekat silaturahmi warga, kami juga menemukan hal baru yang tidak ada di desa tempat kami tinggal.,” ujar Devita salah satu mahasiswa KKN tersebut.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga. Selain menjalankan program kerja KKN, mereka juga bisa mengenal budaya dan tradisi masyarakat secara langsung.

“Tradisi ini bukan hanya tentang doa, tapi juga mempererat silaturahmi masyarakat desa. Kami senang mahasiswa bisa ikut merasakan kebersamaan ini,” ujar Cipto salah satu tokoh masyarakat.

“Harapannya, anak-anak muda bisa terus menjaga dan mencintai kearifan lokal. Safaran jangan sampai hilang ditelan zaman,” Tutup Cipto Warga desa Cahaya Makmur.

Tradisi safaran pun ditutup dengan makan bersama. Warga dan mahasiswa duduk lesehan, menikmati hidangan yang dibawa masing-masing keluarga. Kebersamaan sederhana, namun sarat makna.

Reporter: Darotul Asih Fatun Nikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!